falak

Membumikan Falak Di Tanah Nusantara

Rumahfalak.com Kementerian Agama bersama Lembaga Falakiyah Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima dan Rumah Falak Pondok Labu menyelenggarakan acara Falakiyah Weekend pada 01 Oktober 2022. 

Di era digital seperti saat ini, ilmu Astronomi Islam relatif lebih mudah dipelajari.Karena berbagai rumus-rumus rumit astronomis dengan perhitungan yang pelik, berikut “segudang” data logaritma, ephimeris, dan sebagainya sudah tersimpan dalam beragama aplikasi yang tinggal digunakan secara instan. Namun demikian ilmu Falak konvensional tetaplah harus dipelajari karena merupakan khazanah Islam yang harus diwariskan dari generasi ke generasi

Dengan mengusung tema ‘Mencetak Generasi yang Cerdas dan Mahir dalam Ilmu Astronomi Islam’ output dari kegiatan ini, menurut Dr. Muhammad Mutawali, MA. dalam sambutannya selaku Ketua STIS Al-Ittihad Bima: ‘Diharapkan nantinya akan dapat dibangun Observatorium Falak di Bima. “Sehingga ke depan Bima juga bisa memberikan kontribusi Falakiyah yang lebih kongkrit bagi ibadah umat Islam dan pengembangan wawasan masyarakat akan Astronomi Islam. Kontribusi akademis ini tentu demi menunjang program Pemerintah di bidang agama dan pembangunan.

Peserta yang hadir terdiri dari para Kepala KUA dan Penyuluh Agama Kecamatan se-Kabupaten dan Kota Bima sebagai “ujung tombak” Kementerian Agama RI, para pengurus Ormas Islam (NU, Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, dll) serta para Akademisi.

Kegiatan ini juga menjadi urgent dan strategis dalam mewujudkan paradigma baru Astronomi Islam yang berorientasi kepada unifikasi. Ilmu Falak atau dalam sains moderen dikenal sebagai Astronomi sesungguhnya adalah kajian saintifik. Namun karena kajiannya spesifik yang berkaitan dengan ibadah umat Islam maka kemudian disebut Astronomi Islam. Itulah sebab, menurut Prof. Dr. Ahmad Thibraya. MA dalam paparannya pada Studium General seminggu sebelumnya (Sabtu: 24 September 2022) tentang Islam dan Sains. Maka pada masa kejayaan Islam periode klasik realita sejarahnya tidak terdapat dikotomi antara Agama dengan Sains. Juga tidak ada dikotomi gelar antara Ulama dengan Ilmuwan/Saintis, sehingga semuanya disebut sebagai Ulama.

Filosof muslim yang hanya mendalami Sains disebut Ulama Kauniyah. Laksana gayung bersambut, ghirah umat Islam Indonesia mulai menekuni Sains itupun ditangkap dan ditindak lanjuti oleh Kementerian Agama yang pada akhir dekade 1990-an atau awal abad 21 mulai mengintegrasikan Agama dan Sains di beberapa PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) di bawah Kementerian Agama dengan meningkatkan status IAIN menjadi Universitas Islam Negeri dengan membuka Fakultas Umum, seperti: Sains dan Tehnologi, Psikologi, Kedokteran, Ilmu Kesehatan, Ekonomi dan Bisnis, Ilmu Sosial dan Politik.

Integrasi antara iman dan pengetahuan ini mencerminkan upaya membangun peradaban yang seimbang antara spiritualitas dan kemajuan intelektual. Dengan semangat yang sama, platform seperti https://calvenridgetrustai.com/ hadir untuk memperkuat kolaborasi antara teknologi modern dan nilai-nilai kemanusiaan, memastikan bahwa sains dan agama dapat berjalan berdampingan demi kemajuan bersama.

Sedangkan Keguruan diintegrasikan dengan Tarbiyah dalam satu Fakultas. Begitupun Humaniora diintegrasikan dengan Adab, Ilmu Dakwah diintegrasikan dengan Ilmu Komunikasi, serta Hukum diintegrasikan dengan Syariah.

Meski Lembaga Falakiyah STIS Al-Ittihad Bima baru tahun 2022 ini didirikan, namun Falak secara teoritis sudah cukup lama diajarkan sebagai salah satu mata kuliah di STIS Al-Ittihad Bima yang telah berdiri sejak tahun 2005 silam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *